Contoh Sikap Nilai Pancasila Sila ke-2

Bunyi Pancasila sila ke-2, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab“.

Dalam Pancasila, sila kedua tersebut menjelaskan mengenai pentingnya kehidupaan bermasyarakat dengan penuh kebersamaan, sehingga terjalin hubungan yang harmonis satu sama lain.

Hubungan yang harmonis antar sesama, mampu menciptakan suasana yang aman, damai, dan tenteram. Mengingat, orang Indonesia terkenal dengan kebaikannya.

Dari para leluhur, mereka menurunkan perilaku terhadap generasi bangsa ini dengan penuh adab, sopan dan santun. Bahkan, orang asing juga mengakui akan kesantunan orang Indonesia.

Pada intinya, bunyi sila ke-2 ini merupakan hubungan yang terjalin antara individu yang satu dengan individu yang lain dalam kehidupan sosial masyarakat.

Berikut ini beberapa pengamalan contoh sikap nilai Pancasila sila ke-2, atau wujud perilaku yang dilakukan.

Contoh Sikap Nilai Pancasila Sila ke-2

Contoh sikap nilai Pancasila sila ke-2
Contoh sikap nilai Pancasila sila ke-2

Pancasila sila ke-2 berbunyi, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab“.

1. Saling Membantu Satu Sama Lain

Saling membantu
Saling membantu satu sama lain, via dictio.id

Bagi orang Indonesia, saling membantu atau tolong-menolong sepertinya bukan lagi hal yang asing di lingkungan masyarakat.

Karena, kebiasaan orang Indonesia sendiri juga gemar membantu, terlebih lagi mudah iba terhadap mereka yang berkekurangan.

Dalam memberikan bantuan, banyak contoh yang bisa dilakukan dalam kehidupan sosial masyarakat, meliputi :

  • Membantu korban bencana alam
  • Membantu mengerjakan tugas yang sulit dengan belajar kelompok
  • Membantu menyeberangkan orang yang sulit menyeberang jalan
  • Membantu tetangga yang kesulitan finansial (keuangan)
  • Memberikan santunan kepada fakir miskin dan anak yatim
  • Mempersilakan duduk bagi orang tua atau wanita hamil saat berada di transportasi umum
  • dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan

2. Menjenguk Teman yang Sakit

Menjenguk teman sakit
Menjenguk teman yang sakit, via ukhuwah.sch.id

Yang namanya orang sakit, tentu membutuhkan dorongan dan semangat, baik itu dari faktor internal maupun dari faktor eksternal.

Faktor internal mencakup orang sakit itu sendiri, dengan niat dan tekad yang kuat untuk bisa sembuh dari penyakit.

Sementara itu, dalam faktor eksternal atau faktor dari luar, bisa berupa dukungan dari keluarga, tetangga, dan lain sebagainya.

Sebagai orang yang baik dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan, maka sudah sepatutnya kita menjenguk orang yang sakit, apalagi jika orang yang sakit tersebut memiliki kedekatan hubungan dengan kita.

Walaupun kita tak bisa memberikan bantuan berupa uang atau obat-obatan, setidaknya kita bisa menjenguk orang yang sakit, agar mereka juga bersemangat karena banyak yang berempati kepadanya.

3. Tidak Menyinggung Perasaan Orang Lain

Komunikasi
Menjalin komunikasi dengan baik dan benar, via ciputrauceo.net

Dalam kehidupan bermasyarakat, sebisa mungkin jangan pernah mengusik kehidupan orang lain yang bukan urusan kita.

Masalahnya, apabila kita sering mengusik kehidupan orang lain, sama saja kita menyinggung perasaan orang lain yang tidak bersalah.

Dalam berkehidupan sosial masyarakat, hendaknya baik itu diri sendiri atau tetangga, memiliki sikap dewasa dan tenggang rasa, yang nantinya tidak mudah menimbulkan baper.

Hindari mengucapkan kata-kata yang kasar dan kotor, hindari menggunjing orang lain, dan berbagai macam perilaku tercela lainnya, yang bisa menyebabkan orang lain menjadi tersinggung.

4. Menjunjung Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM)

Hak asasi manusia
Hak asasi manusia, via city-press.news24.com

Apa itu hak asasi manusia?

Hak asasi manusia atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama human rights, merupakan konsep hukum yang menyatakan jika manusia mempunyai hak yang melekat pada dirinya dan tidak boleh diganggu gugat oleh orang lain.

Hak asasi mausia ini berlaku kapan saja, di mana saja, dan terhadap siapa saja. Sehingga, hak yang satu ini sifatnya adalah universal.

Sementara itu, dalam contoh terminologi modern, hak asasi manusia bisa digolongkan menjadi hak sipil dan politik, yang berkaitan dengan :

  • Kebebasan sipil
    • Hak untuk hidup
    • Hak untuk kebebasan berpendapat
    • Hak untuk tidak disiksa
  • Hak ekonomi, sosial, dan budaya
    • Hak atas perumahan
    • Hak mendapatkan pelayanan kesehatan
    • Hak mendapatkan pendidikan layak

5. Tidak Melanggar Hak Orang Lain

Hak setiap orang
Menghargai hak setiap orang, via id.lifeder.com

Seperti yang telah dibahas di atas mengenai hak asasi manusia, kita semua manusia yang hidup di dunia ini wajib mematuhinya.

Mengapa demikian? Karena hak tersebut hak paling mendasar yang harus dimiliki oleh setiap orang dan tidak boleh diganggu gugat.

Berkenaan dengan hal tersebut, selain menjaga hak diri sendiri, kita juga tidak boleh melanggar hak-hak orang lain.

Biarkan orang lain memiliki hak dan kebebasannya tersendiri, karena yang terpenting, mereka juga tidak mengganggu hak-hak yang kita miliki.

6. Membela Orang yang Tidak Bersalah

Membela kebenaran
Membela orang-orang yang berada di jalur benar, via irishtimes.com

Di dalam kehidupan bermasyarakat akhir-akhir ini, muncul banyak problem atau masalah yang terjadi, bahkan bisa dikatakan dengan frekuensi yang sering terjadi.

Dari banyak kejadian tersebut, terkadang kita sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Langkah paling awal apabila terjadi perpecahan atau masalah antar kubu yang berbeda, hendaknya kita untuk melerai, agar tidak timbul perkelahian atau masalah yang lebih besar lagi.

Setelah itu, bisa memberikan solusi melalui jalan tengah apabila memang gesekan yang terjadi itu agak sulit untuk diatasi.

Akan tetapi, yang terpenting, apabila terjadi masalah, jangan pernah takut untuk membela orang yang berada di posisi benar. Tetaplah berani untuk memperjuangkan dan menyuarakan kebenaran.

7. Saling Menghargai Satu Sama Lain

Perbedaan pendapat
Saling menghargai perbedaan pendapat, via rd.com

Manusia terlahir sebagai makhluk sosial, di mana tak bisa hidup sendirian dan selalu membutuhkan orang lain.

Salah satu contoh dari makhluk sosial tersebut ialah harus berani mengungkap diri jika manusia adalah makhluk yang fleksibel, yang harus memprioritaskan menghargai orang lain.

Menghargai orang lain, bukan berarti menunjukkan kelemahan kita.

Sebaliknya, dengan menghargai orang lain, membuat kita semakin percaya diri dan tak ada celah sama sekali bagi siapapaun, apalagi musuh, untuk menjatuhkan diri kita.

Hal ini jika dimulai memang terasa berat. Walau demikian, semua itu tentu ada balasannya tersendiri.

Jika kita menghormati atau menghargai orang lain, tentu orang lain juga akan menghormati kita. Intinya, belajar saling menghargai dan menghormati.

8. Tidak Berbuat Kasar

Konflik
Tidak berbuat kasar, yang bisa berujung konflik, via walhi.or.id

Kasar merupakan suatu tindakan yang menyinggung, lebih cenderung menyerang orang lain yang menjadi objek atau sasaran.

Di dalam negara Indonesia, apalagi yang menganut sistem demokgrasi, tidak boleh bersikap kasar.

Bersikap kasar bisa melukai hati orang lain, bahkan bisa membuat orang lain tersebut menjadi murka atas perilaku kita.

Bersikap kasar harus ditinggalkan, mengingat kasar adalah perbuatan tercela, dan bukan watak asli orang Indonesia.

Karena sesungguhnya, orang Indonesia adalah orang yang suka cinta damai. Betul?

9. Tidak Membedakan atau Memandang Hanya dari Derajatnya

Jabatan
Tidak memandang dari derajatnya, via redbooth.com

Semakin modern abad yang kita lalui, ternyata kejadian seperti ini sering terjadi di lingkungan masyarakat kita, yang secara tidak langsung bisa membuat tersinggung orang lain.

Jangan pernah memandang seseorang atau orang lain hanya dari derajatnya saja, misal :

  • Jabatannya
  • Kekayaannya
  • dan lain sebagainya

Seperti yang kita ketahui, semua orang di dunia ini sebenarnya diciptakan sama. Bahkan, dianugerahi oleh tubuh yang sempurna dan dibekali oleh akal pikiran.

Jadi, yang berada jangan sombong, yang tidak punya juga jangan terlalu baper, karena lingkup pergaulan kita bukan dilihat dari derajatnya, melainkan dari kebersamaannya.

10. Menciptakan Hubungan yang Harmonis dalam Keluarga

Keluarga harmonis
Keluarga harmonis, via rhslawfirm.com

Apa itu harmoni?

Harmoni merupakan suatu bentuk tindakan sedemikian rupa, yang bisa menghasilkan suatu keselarasan.

Keselarasan ini terjadi karena biasanya, sebelum itu terjadi perbedaan yang sulit diterima, dan pada akhirnya bisa ditemukan jalan tengah.

Mengapa harus jalan tengah? Agar tidak menimbulkan pertikaian dan tidak memicu pilih kasih.

Dalam hubungan keluarga, baik itu orang tua ataupun anak, bisa saling menghargai dan menerima perbedaan pendapat, sehingga bisa menjadikan keluarga lebih harmonis.

11. Tidak Ikut Campur Urusan Orang Lain

Tidak ikut campur
Tidak ikut campur terhadap urusan orang lain, via ciputrauceo.net

Setiap orang tentu memiliki urusannya masing-masing.

Urusan orang A belajar di sekolah, urusan orang B bekerja di kantor, urusan orang C menjadi pengangguran, dan lain sebagainya.

Kita tidak boleh mengusik urusan orang lain. Boleh, tapi bukan ikut campur, melainkan ikut memberikan nasihat atau suatu hal-hal yang sifatnya positif apabila terjadi hal-hal yang menyimpang.

Mengapa lebih ditegaskan untuk tidak ikut campur terhadap urusan orang lain?

Karena yang lebih tahu urusan adalah orang yang terkait. Sementara itu, kita bukan siapa-siapa, dan bukan hak kita juga untuk ikut mencampuri urusan orang lain.

12. Menghargai Pendapat Orang Lain

Menghargai pendapat orang lain
Menghargai pendapat orang lain, via hipwee.com

Dalam kehidupan bermasyarakat, sangat sering terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat yang terjadi.

Apabila dilihat dengan saksama, sebenarnya hal tersebut adalah hal yang wajar atau sah-sah saja.

Bukan mengenai hal itu, melainkan kita harus lebih memahami dan lebih menjadi dewasa untuk bisa menerima pendapat orang lain, yang mungkin berbeda dengan pendapat kita.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia itu beraneka ragam agamanya, budayanya, sukunya, bahasanya, dan lain sebagainya. Indonesia tetap ada dan tidak hancur karena perbedaan.

Jadikanlah perbedaan tersebut sebagai pemersatu, bukan malah sebagai pemecah belah.

13. Berani Mengakui Kesalahan

Mengakui kesalahan
Berani mengakui kesalahan, via islamedia.id

Setelah di atas membahas mengenai berani membela orang yang benar, sekarang adalah giliran berani untuk mengakui kesalahan.

Beginilah kata-kata yang tepat.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, melainkan kekurangan orang jujur.

Drs. Kasino Hadiwibowo (Warkop DKI)

Jadi, sudah tahu kan mengapa kedudukan jujur itu lebih tinggi dibandingkan dengan kecerdasan?

Jika orang yang tidak jujur, bisa memunculkan bibit-bibit pembohong, dan ternyata inilah salah satu pemicu seseorang melakukan tindak korupsi. Dimulai dari berbohong, bisa menjadi korupsi.

Betapa menakutkannya, hal yang kecil bisa membuat hal menjadi besar.

Apabila berbuat salah, maka cobalah untuk bijak mengakui kesalahan. Orang lain juga pasti akan mereda emosinya dan mulai saling memaafkan.

14. Memprioritaskan Kepentingan Bersama Terlebih Dahulu

Kepentingan bersama
Mengutamakan atau memprioritaskan kepentingan bersama, via detikawanua.com

Apa itu kepentingan bersama?

Kepentingan bersama merupakan sebuah keputusan yang diambil secara bersama-sama dengan cara musyawarah dan mufakat, sehingga bisa menghasilkan kesepakatan bersama, sehingga semuanya merasa senang dan adil dengan apa yang telah dilakukan.

Apalagi di dalam kehidupan bermasyarakat, seharusnya senantiasa mengedepankan kepentingan bersama terlebih dahulu, barulah kepentingan pribadi.

Semisal, ada rembug desa di malam hari, namun kita masih memiliki PR dari kantor. Alangkah baiknya ikut sebentar rembug desa tersebut, sehabis itu kita masih bisa melanjutkan PR yang dimiliki.

15. Membangun Sikap Gotong Royong

Gotong royong
Membangun semangat gotong royong, via kabardesa.com

Gotong royong merupakan istilah Indonesia yang merupakan bekerja bersama-sama dalam mencapai suatu hasil yang didambakan atau diinginkan.

Jika kita lihat atau berbicara masa lalu, budaya gotong royong sangat mudah ditemui dalam berbagai macam bentuk.

Budaya gotong royong inilah yang seharusnya tetap bisa dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah gotong royong sendiri juga berasal dari bahasa Jawa, yakni gotong adalah pikul dan royong adalah bersama-sama.

Jadi, jika diartikan secara harfiah, gotong royong adalah mengangkat secara bersama-sama, untuk mengerjakan sesuatu, sehingga bisa lebih mudah dan cepat diselesaikan.

Banyak nilai yang tersirat dari gotong royong, seperti :

  • Kebersamaan
  • Persatuan
  • Rela berkorban
  • Sosialisasi
  • Tolong-menolong

16. Bersikap Adil Terhadap Sesama

Bersikap adil
Bersikap adil terhadap sesama, via nadirhosen.net

Apa itu adil?

Adil memiliki arti berada di tengah, jujur, lurus, dan tulus.

Orang yang bersikap adil, selalu bersikap imparsial, di mana sikap tidak memihak kepada siapapun, kecuali kepada kebenaran.

Bangsa Indonesia, keadilan adalah milik seluruh umat manusia, tanpa harus memandang agama, suku, status jabatan, hingga strata sosial.

Sikap adil ini juga hampir mirip seperti tidak pilih kasih. Berikan sikap kepada mereka, tanpa harus memandang apa jabatannya.

17. Berperilaku Sesuai dengan Norma yang Berlaku

Norma
Berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku, via ngelmu.id

Apa itu norma?

Norma merupakan kaidah dan peraturan yang diterapkan di lingkungan sosialnya.

Sementara itu, apabila ada seseorang yang melanggar norma yang berlaku, maka akan ditindak dengan bagaimana norma tersebut berlaku.

Ada atau tidaknya norma, ternyata bisa bergantung terhadap kecenderungan perilaku seseorang.

Jika ingin hidup yang lurus, maka taatilah norma yang berlaku di masyarakat, salah satu contohnya dengan berbuat baik, berbagi kepada sesama, dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *